PENDIDIKAN DAN STRATIFIKASI SOSIAL

Dunia pendidikan Indonesia, semakin hari semakin berkembang. Namun, seperti kita ketahui, perkembangan ini tidak sepadan dengan kualitas pendidikan itu sendiri. Hal ini mengakibatkan kesenjangan atau ketimpangan di dalam masyarakat Indonesia seperti kualitas lulusan, kesenjangan antara pendidikan kota dan desa, dan sebagainya. Selain itu, didalam pendidikan muncul masalah yang tidak dapat terpisahkan dari pendidikan itu sendiri yang yaitu bahwa pendidikan cenderung menjadi sarana stratafikasi sosial. Pendidikan dijadikan suatu pembeda dalam status sosial seseorang. Tingkat pendidikan akan menentukan status sosial seseorang di masyarakat. Dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan / pendidikan, orang yang memiliki keahlian / berpendidikan akan mendapat penghargaan lebih besar dibanding mereka yang tidak berpendidikan. Orang yang tingkat pendidikannya tinggi akan lebih dihargai dan dihormati dalam masyarakat. Sebaliknya, orang yang tingkat pendidikannya rendah kurang dihargai dalam masyarakat. Perbedaan status sosial karena tingkat pendidikan. Akhirnya, akan memunculkan suatu pelapisan sosial/stratafikasi sosial. Sesuai dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat saat ini stratafikasi sosial berlangsung sangat pesat. Terutama bentuk stratafikasi yang terbuka, karena dalam sistem stratafikasi terbuka semua masyarakat berhak untuk mengisi kedudukan-kedudukan yang ada di masyarakat, jadi mereka bisa berubah kedudukan sesuai dengan yang mereka inginkan, sedangkan stratafikasi sosial tertutup suatu masyarakat tidak bisa berubah kedudukan sesuai dengan yang mereka inginkan.

Menurut Pitirim A. Sokorin (dalam Ahmadi, 2009, hlm. 197), “Pelapisan masyarakat adalah perbedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas yang tesusun secara bertingkat (hierarchis)”. Terjadinya stratatifikasi sosial karena tidak adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban sehingga rasa tanggung jawab sosial berkurang lalu dilajuntkan dengan adanya ketimpangan pemilikan nilai atas harga. Akibatnya, sesama anggota kelompok sosial menilai dan memilah-milah yang akhirnya tersirat dan diakui adanya perbedaan, pada akhirnya munculah strata. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mencoba mendalami dan mengkaji permasalahan tersebut dalam makalah yang berjudul “Pendidikan dan Stratatifikasi Sosial”.

Konsep Stratifikasi Sosial.

Stratifikasi sosial adalah pengelompokan anggota masyarakat kedalam lapisan-lapisan sosial secara bertingkat. Atau definisi stratifikasi sosial yaitu merupakan suatu pengelompokan anggota masyarakat berdasarkan status yang dimilikinya. Tentunya kita pernah mendengar istilah S1, S2 dan S3 yang merupakan salah satu jenjang pendidikan perguruan tunggi. nah, kali ini sedikit kami bahas mengenai konsep tersebut. Strata konsep dasarnya adalah lapisan. Stratifikasi sosial adalah pembedaan/pengelompokan penduduk atau masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial secara bertingkat.

Perwujudan pelapisan sosial dalam masyarakat dikenal dengan istilah kelas-kelas sosial yang terdiri atas :

  1. Kelas sosial tinggi (upper class),
  2. Kelas sosial menengah (middle class), dan
  3. Kelas sosial rendah (lower class).

Kelas sosial tinggi meliputi para pejabat atau penguasa dan pengusaha kaya. Kelas sosial menengah meliputi kaum intelektual, seperti dosen, peneliti, mahasiswa, pengusaha kecil, menengah dan pegawai negeri. Kelas sosial rendah merupakan kelompok terbesar dalam masyarakat yang meliputi buruh dan pedagang kecil. Pengelompokan semacam itu terdapat dalam segala bidang kehidupan dimana manusia menjalankan aktivitasnya.

Dasar Stratifikasi Sosial dalam masyarakat

  1. Kekayaan

Seseorang yang memiliki kekayaan yang paling banyak akan menempati stratifikasi teratas. Orang yang memiliki harta benda banyak akan lebih dihargai dan dihormati masyarakat daripada orang yang miskin. Kriteria umum yang biasa dipakai untuk menempatkan seseorang pada lapisan ini antara lain adalah bentuk dan perabot rumah yang besar dan mewah, jenis mobil yang digunakan, simpanan dalam bentuk kepemilikan tanah yang luas, dan nilai pembayaran pajak yang umumnya besar. Karena itu masyarakat menempatkan orang-orang tersebut pada lapisan masyarakat atas.

  1. Kekuasaan

Kekuasaan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menetukan kehendaknya terhadap orang lain (yang dikuasai). Kekuasaan didukung oleh lain,struktur seperti kedudukan atau posisi tertentu seseorang dalam masyarakat, kekayaan yang dimiliki, kepandaian, bahkan kelicikan. Seseorang yang memiliki kekuasaan akan menempati strata yang tinggi dalam struktur sosial masyarakat yang bersangkutan.

  1. Keturunan

Dalam masyarakat feodal, anggota masyarakat dari keluarga raja atau kaum bangsawan akan menempati lapisan atas, seperti orang yang bergelar andi di masyarakat Bugis, Raden di masyarakat Jawa, Tengku di masyarakat Aceh, dan sebagainya. Umumnya mereka disebut dengan ungkapan orang berdarah biru.

  1. Pendidikan

Dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan atau pendidikan, orang yang memiliki keahlian atau profesionalitas akan mendapatkan penghargaan yang lebih besar dibanding orang yang tidak memiliki keahlian dan berpendidikan rendah ataupun buta huruf. Mereka yang termasuk golongan ini adalah para peneliti, cendekiawan atau dosen, dokter, hakim, para atlet dan sebagainya.

Proses terjadinya stratifikasi sosial

Proses terjadinya dari stratifikasi sosial diantaranya seperti di bawah ini:

  1. Terjadi secara otomatis/dengan sendirinya

Dapat terjadi karena faktor yang sudah ada sejak seseorang lahir, atau proses ini bisa terjadi karena pertumbuhan masyarakat. Sesorang yang menempati lapisan tertentu bukan atas kesengajaan yang dibuat oleh masyarakat atau dirinya sendir akan tetapi terjadi secara otomatis, seperti misalnya keturunan.

  1. Terjadi secara sengaja

Dapat terjadi dengan sengaja dengan maksud untuk tujuan atau kepentingan bersama. Sistem ini ditentukan dengan adanya wewenang dan juga kekuasaan yang diberikan oleh seseorang atau organisasi. Misalnya seperti diberikan oleh partai politik, perusahaan tempat bekerja, pemerintahan dan lain-lain.

Sifat Stratifikasi Sosial

Sistem stratifikasi sosial dalam suhu masyarakat ada yang bersifat terbuka dan ada juga yang bersifat tertutup. Stratifikasi sosial yang bersifat tertutup tidak memungkinkan pindahnya seseorang dari lapisan sosial seseorang dari lapisan sosial yang satu ke lapisan sosial lainnya, baik kelapisan atas atau lapisan bawah. Lapisan sosial tertutup ini berdasarkan kelahiran sehingga gerak sosialnya dinamakan gerak horizontal, contohnya pada masyarakat berkasta (feodel) dan masyarakat yang menerapkan diskriminasi ras.

Sifat stratifikasi sosial terbuka, seseorang dapat berubah dari satu lapisan ke lapisan sosial lainnya, baik ke atas maupun kebawah. Seseorang yang berada dalam lapisan sosial mempunyai kesempatan dengan cara berusaha melalui kecakapan sendiri untuk naik ke lapisan atas, apabila tidak beruntung akan jatuh kelapisan bawah, sehingga gerak sosialnya dinamakan gerak vertikal, pada umumnya dalam sistem lapisan sosial terbuka, memberi perangsang besar kepada setiap anggotanya untuk mengembangkan kecakapannya karena itu mobilitas berdasarkan prestasi. Sistem terbuka ini sesuai dengan masyarakat yang bersifat demokratis.

Unsur-Unsur Stratifikasi Sosial

Unsur-unsur dalam stratifikasi sosial adalah kedudukan (status) dan peranan (role). Kedudukan dan peranan merupakan unsur pokok dalam stratifikasi sosial. Status menunjukkan tempat atau posisi seseorang dalam masyarakat. Peranan merupakan suatu tingkah laku atau tindakan yang diharapkan dari seorang individu yang menduduki status tertentu.

  1. Kedudukan (Status)

Kedudukan berarti tempat seseorang dalam suatu pola atau kelompok sosial. Dengan demikian, seseorang dapat memiliki lebih dari satu status. Hal itu disebabkan seseorang biasanya hidup dalam beberapa pola kehidupan atau menjadi anggota dalam berbagai kelompok sosial. Misalnya, Dina seorang pelajar sebuah SMA. Selain sebagai seorang pelajar, Dina juga menjadi ketua OSIS dan anggota Palang Merah Remaja. Di rumah, Dina sebagai seorang anak, seorang kakak dari dua adiknya. Selain itu, Dina juga menjadi sekretaris karang taruna di kampungnya. Dengan demikian, Dina memiliki lebih dari satu status.

Menurut Soerjono Soekanto dalam buku Sosiologi Suatu Pengantar, Masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan, yaitu sebagai berikut :

  1. Ascribed Status

Ascribed Status adalah kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan.

  1. Achiefed Status

Achiefed Status adalah kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang di sengaja.

Status pada dasarnya dibedakan atas status yang bersifat objektif dan subjektif. Status yang bersifat objektif disertai dengan hak dan kewajiban yang terlepas dari individu. Sementara itu, status yang bersifat subjektif adalah status yang menunjukkan hasil dari penilaian orang lain di mana sumber status yang berhubungan dengan penilaian orang lain tidak selamanya konsisten untuk seseorang.

Dalam masyarakat sering kali kedudukan dibedakan menjadi tiga macam, yaitu ascribed status, achieved status dan assigned status.

1) Ascribed status adalah kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memerhatikan perbedaan seseorang karena kedudukan tersebut diperoleh berkat kelahiran. Dengan kata lain, status yang diperoleh dengan sendirinya atau status yang diperoleh tanpa inisiatif sendiri. Status ini dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

  1. Kelahiran

Pada umumnya ascribed status berdasarkan kelahiran ini terdapat pada masyarakat dengan sistem pelapisan sosial yang tertutup. Misalnya, pada masyarakat feodal, masyarakat kasta, dan masyarakat diskriminasi sosial. Misalnya, kedudukan seorang anak raja adalah bangsawan juga.

  1. Jenis kelamin

Status berdasarkan jenis kelamin dalam masyarakat terdiri atas laki-laki dan perempuan.

  1. Umur atau usia

Menurut umur, status dibedakan atas muda, sedang dan tua.

  1. Anggota keluarga

Status dalam keluarga terdiri atas ayah, ibu, dan anak.

2) Achieved status adalah kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha sendiri. Kedudukan ini misalnya setiap orang dapat menjadi hakim, dokter, jika memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti telah menempuh pendidikan kehakiman dan kedokteran.

3) Assigned status adalah status atau kedudukan yang diberikan atau dianugerahkan. Assigned status mempunyai hubungan yang erat dengan achieved status. Contohnya pemberian gelar kebangsawanan kepada tokoh yang dianggap berjasa terhadap masyarakat.

  1. Peranan (Role)

Peranan merupakan aspek dinamis dari kedudukan atau status. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya maka dia berarti telah menjalankan suatu peran. Peran dan kedudukan tidak dapat dipisahkan karena satu dengan yang lainnya saling tergantung. Tidak ada peran tanpa status dan tidak ada status tanpa peran. Seseorang dalam masyarakat bisa memiliki lebih dari satu peran dari pola pergaulan hidupnya.

Peran dapat membimbing seseorang dalam berperilaku. Adapun fungsi peran adalah sebagai berikut :

  1. memberi arah pada proses sosialisasi,
  2. pewarisan tradisi, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma dan pengetahuan,
  3. dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat,
  4. menghidupkan sistem pengendali dan kontrol sehingga dapat melestarikan kehidupan mereka.

Pengaruh pendidikan terhadap Stratifikasi Sosial

Pendidikan sebagaimana dijelaskan oleh Kamanto Sunarto dalam Pengantar Sosiologi, adalah suatu lembaga yang bertujuan untuk mengembangkan potensi setiap peserta didiknya, sehingga bisa dikatakan bahwa melalui pendidikan lah seseorang bisa memperlihatkan dan mengembangkan kemampuannya yang kemudian akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Pada hakikatnya tidak ada masyarakat tanpa kelas. Definisi sistematik antara lain dikemukakan oleh Pitirim A.Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudan dari stratifikasi sosial adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial. P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan.

Salah satu dasar pembentuk pelapisan sosial atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial yaitu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan ini erat hubungannya dengan pendidikan. Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor.

Dalam berbagai studi, disebutkan tingkat pendidikan tertinggi yang didapatkan seseorang digunakan sebagai indeks kedudukan sosialnya di dalam masyarakat. Menurut penelitian memang terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial yang seseorang dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuhnya, meski demikian pendidikan yang tinggi tidak dengan sendirinya menjamin kedudukan sosial yang tinggi. Korelasi antara pendidikan dan golongan sosial antara lain terjadi karena anak dari golongan rendah kebanyakan tidak melanjutkan pelajarannya sampai perguruan tinggi.

Sementara orang yang termasuk golongan atas beraspirasi agar anaknya menyelesaikan pendidikan sampai perguruan tinggi. Orang yang berkedudukan tinggi, bergelar akademis, yang mempunyai pendapatan besar tinggal dirumah elite dan merasa termasuk golongan atas akan mengusahakan anknya masuk universitas dan memperoleh gelar akademis. Sebaliknya anak yang orangtuanya buta huruf mencari nafkahnya dengan mengumpulkan puntung rokok, tinggal digubuk kecil, tak dapat diharapkan akan mengusahakan anaknya menikmati perguruan tinggi. Ada 3 faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan seorang anak, yaitu:

  1. Pendapatan orangtua.
  2. Kurangnya perhatian akan pendidikan dikalangan orang tua.
  3. Kurangnya minat si anak untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Golongan sosial tidak hanya berpengaruh terhadap tingginya jenjang pendidikan anak tetapi juga berpengaruh terhadap jenis pendidikan yang dipilih. Tidak semua orangt ua mampu membiayai studi anaknya diperguruan tinggi. Pada umumnya anak-anak yang orangtuanya mampu, akan memilih sekolah menengah umum sebagai persiapan untuk belajar di perguruan tinggi. Sementara orangtua yang mengetahui batas kemampuan keuangannya akan cenderung memilih sekolah kejuruan bagi anaknya, dengan pertimbangan setelah lulus dari kejuruan bisa langsung bekerja sesuai dengan keahliannya.

Dapat diduga sekolah kejuruan akan lebih banyak mempunyai murid dari golongan rendah daripada yang berasal dari golongan atas. Karena itu sekolah menengah dipandang lebih tinggi statusnya daripada sekolah kejuruan. Demikian pula dengan mata pelajaran atau bidang studi yang berkaitan dengan perguruan tinggi dipandang mempunyai status yang lebih tinggi, misal matematika, fisika dipandang lebih tinggi daripada tata buku. Sikap demikian bukan hanya terdapat dikalangan siswa tetapi juga dikalangan orang tua dan guru yang dengan sengaja atau tidak sengaja menyampaikan sikap itu kepada anak-anaknya.

Dari pembahasan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa, pertama kita dapat melihat bahwa pendidikan merupakan hal penting dalam masyarakat. Seperti yang kita tahu bahwa pendidikan dapat menjadi alat untuk meningkatkan status sosial masyarakat. Namun pendidikan sendiri dapat menyebabkan stratifikasi sosial dan membuat kesenjangan didalam dunia pendidikan semakin jelas terlihat. Seperti kasus timbulnya label sekolah favorit dan tidak favorit. disini jelas terlihat bahwa sekolah yang berlabel sekolah favorit cenderung dimasuki oleh orang-orang yang berstatus sosial tinggi dan ini menunjukan bahwa pedidikan yang bermutu hanya dapat dijangkau oleh orang-orang berkelas tinggi. Sedangkan sebaliknya, orang yang berada didalam kelas bawah mereka harus menikmati pendidikan seadanya.

======================================

ditulis Oleh : Tarmidi

(Mahasiswa IAIIG CILACAP)

SUMBER BACAAN

Arief Zulkipli “konsep-stratifikasi-sosial” dalam http://sosiotekno.blogspot.co.id diakses pada hari Sabtu tanggal 13 November 2010 pukul 09.33

Didin Saripudin, Interpretasi Sosiologis dalam Pendidikan, Karya Putra Darwati: Bandung, 2010

Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia: Jakarta, 2004

Soekanto, Soerjono. (2007). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *